Keesokan harinya, saya terbangun pukul 03.00, standar waktu bangun di Bandung lah. Di luar masih gelap tapi suara kembang api (atau petasan ya?) masih bersahut-sahutan di tengah keheningan malam yang dingin. Masih sambil mendengarkan musik, saya menyalakan tv dan menonton pertandingan bola *oke, ini ga penting. Skip* Akhirnya matahari pun terbit dan menyinari kompleks villa, saya pindah ke villa sebelah dan sarapan pun sudah tersedia, sepiring nasi jagung. Apa pula itu nasi jagung? Intinya sih cuma nasi yang dicampur dengan jagung dan lauk seperti tempe, sayur nangka, ikan teri, dan urap. Rasanya? Cukup unik karena ada perbedaan tekstur antara nasi dan jagung *gawat, mulai melenceng ke blog wisata kuliner* FYI nasi jagung ini harus dibeli sebelum pukul 6 pagi karena setelah pukul 6 sihirnya hilang dan Cinderella harus kembali ke rumahnya biasanya menu itu sudah habis terjual. Setelah makan, kami merencanakan kegiatan hari ini. Karena dari Bandung saya sudah browsing tempat wisata favorit di sekitar Surabaya-Malang, Jawa Timur Park II di Kota Batu pun jadi pilihan. Kami berangkat pukul 10.00 menggunakan satu mobil karena yang ikut hanya saya keluarga plus mang dan dua sepupu saya.
Perjalanan dimulai, demi pengalaman dan sensasi mengemudi yang menarik, mang saya mengusulkan untuk melewati jalan alternatif yang lintasannya nyaris seperti roller coaster. Yah, mumpung masih pagi kami semua setuju-setuju saja. *Hening…* Whoaa!! Gila, ini jalan apaan?? Awalnya sih standar jalan di kaki pegunungan tapi setelah beberapa ratus meter kami akan melewati tanjakan dengan kemiringan limit menuju 90° (Lebay, sebenernya sih sekitar 50-60°) tapi kemiringan segitu kan curam banget kalo di jalan, coba aja sendiri. Saya jadi ngebayangin gimana caranya orang-orang yang naik sepeda atau jalan kaki, buat saya itu uji nyali, bahkan naik motor aja saya ragu. 15 menit berikutnya dilewati dengan tanjakan dan turunan dengan kemiringan sejenis, sampai akhirnya kami terjebak macet. Ternyata di depan adalah antrian masuk taman safari prigen, pantes macet. Setelah terbebas dari kemacetan, kami meneruskan perjalanan dengan cukup lancar. Di sepanjang perjalanan terlihat warga sekitar berjualan nangka yang ukurannya lebih besar dari bayi yang baru lahir. Melihat hal itu, saya menjadi yakin bahwa ketiban durian runtuh masih jauh lebih beruntung dari ketiban nangka segede itu. Setelah fenomena bayi-bayi di pinggir jalan itu telah usai, kami memasuki jalan utama Surabaya-Malang. Perjalanan sampai memasuki Batu cukup lancar. Namun, sesampainya kami di jalan dekat terminal Batu yang mengarah ke berbagai tempat wisata, macet panjang pun menghadang. Waktu saat itu menunjukkan pukul 15.00, saya pun pasrah. Mau pulang lagi, udah tanggung tinggal sedikit lagi nyampe. Mau lanjut, udah sore dan ngga tahu kapan sampai di tujuan, ditambah lagi saat itu sedang hujan. Kenapa bisa semacet ini?? Saya baru sadar, hari Minggu ini kan tanggal 1 Januari #damn. Kami memutuskan untuk maju tak gentar. Akhirnya kami sampai di Jatim Park II pukul 16.00 kurang. Sebelum itu ada suatu kejadian yang cukup sesuatu banget. Jadi, saat itu sedang macet-macetnya. Mobil kami akhirnya maju beberapa meter setelah tertahan sekian lama. Tidak sampai semenit kemudian, pohon di belakang kami tumbang tiba-tiba dan menimpa seorang pengendara motor. WHAT THE, itu… close enough. Untungnya pengendara motor itu tidak apa-apa karena pohon tersebut ternyata hanya menyenggol dia sedikit, fyuuh.
Di Jatim Park II, kami membeli tiket masuk untuk dua tempat yaitu Batu secret zoo dan museum. Di sana saya melihat waktu operasi tempat ini hanya sampai pukul 18.00. Nice, kami hanya punya waktu dua jam di dalam dan dengan kondisi hujan begini. Apa daya, kami pun tetap membeli tiket terusan seharga 75.000 yang saya anggap cukup murah untuk masuk dua tempat wisata yang katanya berstandar internasional ini. Kami pun masuk ke secret zoo dulu karena tempatnya terbuka, jadi ya sekalian basah dulu lah. *Skip sampai udah mau keluar* Kesan pertama saya setelah berputar-putar di secret zoo selama satu setengah jam adalah, rapi banget! Maksud rapi di sini adalah semua kandang binatang tertata dengan sangat rapi. “Kebun binatang” ini agak berbeda dengan kebun binatang lain di Indonesia *cuma pernah yang di Indonesia soalnya* karena pengunjung hanya perlu melewati satu lintasan untuk melihat semua binatang di sini. Jadi tidak perlu repot bertanya, “Saya mau lihat kecoak, di mana ya kandangnya?” atau pertanyaan merepotkan lainnya, sekali jalan semua kandang terlewati. Binatang yang ada di sini pun kebanyakan saya belum pernah lihat di kebun binatang lain. Hewan seperti flying lemur, tomato frog, green tea frog, rattle snake, dan walabi (mirip kangguru tapi lebih kecil). Bahkan ada juga yang namanya belum pernah saya dengar seperti orienta short clawed otter (ini apa pula, namanya kepanjangan), mouflon (bentuknya mirip kambing gunung), dan African clawed frog (bentuknya aneh banget, ga mirip kodok sama sekali). Sebenernya masih banyak hewan aneh lainnya tapi karena hujan turun semakin deras dan waktu tutup sudah dekat, jadi kami menyudahi perjalanan di secret zoo ini.
Tempat berikutnya yang kami kunjungi adalah museum satwa Batu. Kesan pertama saya adalah, bangunannya epik! Penampakan luar museum ini dibuat mirip dengan Pantheon di Roma. Begitu masuk, sebuah sangkar raksasa menyambut kami. Fungsinya ternyata cuma untuk duduk dan foto-foto, haha. Di belakang sangkar ada kerangka Tyrannosaurus, Stegosaurus, dan Brontosaurus (maaf kalo namanya salah, maklum udah lama ngga ketemu) yang berada di tengah ruangan dan membuat saya seperti berada di lokasi syuting Night at the Museum. Di sepanjang dinding museum, terdapat bingkai berkaca yang di dalamnya terdapat replika binatang yang dibentuk seperti diorama beserta latar belakang yang terlihat nyata. Contohnya ada satu bingkai yang isinya adegan dua ekor singa yang sedang menerkam seekor zebra di sebuah padang rumput dan karena kacanya sangat bening, kita seperti bisa menyentuh langsung diorama itu. Berkeliling di museum memerlukan waktu sekitar 45 menit. Ketika kami masih berada di dalam, sebenarnya waktu sudah melebihi pukul 18.00 tapi mungkin karena masih banyak pengunjung di dalam, pihak museum memperpanjang waktu operasi, ya bagus lah. Lagi-lagi saya terkesima dengan tata letak dan suasana nyaman di museum ini. Suasana yang mirip dengan yang sempat saya rasakan di science centre Singapura akhirnya bisa saya rasakan lagi di Indonesia. Sepertinya pemilik tempat wisata ini benar-benar ingin menyediakan wisata edutainment di Jawa Timur dengan harga yang terjangkau sebagian besar masyarakat Indonesia, salut!
Keluar dari museum, kami memutuskan untuk melewati satu lagi tempat wisata yang memang dibuka dari sore hingga malam hari, Batu Night Spectacular. Perjalanan menuju sana masih ditemani oleh kemacetan. Namun, karena dari tadi siang sudah biasa kena macet, perjalanan itu pun terasa cukup singkat. Sampai di tujuan, kami hanya melihat BNS dari dalam mobil karena hujan masih turun sehingga rasanya percuma membeli tiket masuk dan kehujanan lagi karena tempatnya outdoor. Dari kejauhan pun sudah terlihat kemeriahan di BNS, ada banyak lampu-lampu yang tampak menarik dijadikan objek foto. Kata mang saya sensasi terbesar di tempat wisata ini adalah menaiki wahana permainan seperti di pasar malam sambil menikmati pemandangan malam kota Malang dan sekitarnya, mengingat lokasi BNS yang berada di dataran tinggi. Sebelum pulang ke villa, kami mampir ke Kota Malang untuk makan malam. Kami sampai di restoran IBC (Ikan Bakar Cianjur) *jauh-jauh ke Jawa Timur, makannya tetep masakan Jawa Barat -_- * sekitar pukul 9 malam. Karena kedinginan akibat kehujanan, saya memesan minum bandrek dan makan nasi goreng. Rasa bandreknya mirip susu rempah yang biasa saya minum di BMC PVJ, lumayan enak kok. Porsi nasi gorengnya juga banyak, cocok untuk yang lapar :D. Setelah makan, kami kembali ke prigen dan sampai di villa sekitar pukul 11 malam. Hari kedua liburan pun diisi dengan kegiatan yang menyenangkan. Kalian iri kan? Wuahahahaa
Bersambung ke part 3…