Waw, akhirnya selesai juga baca Timeline, sebuah novel karya (alm) Michael Crichton. Novel ini cukup berat (secara fisik dan tema), tapi bagi yang memang suka sci-fi dijamin pasti suka,hha. Apalagi pengarangnya sudah sangat terkenal, siapa yang tak tahu Jurassic Park?? Filmnya saja sudah dibuat sebanyak tiga seri. Selain Jurassic Park, Michael Crichton juga telah mengarang novel-novel lain yang beberapa di antaranya telah difilmkan, semisal Congo, Sphere, Prey dan Airframe.
Di dalam Timeline, Om Mich mengambil konsep perjalanan ruang-waktu. Namun, jangan membayangkan alat yang digunakan sama seperti mesin waktunya Doraemon atau yang di film Back to the Future. Film-film yang membahas perjalanan waktu umumnya menggunakan alat yang membuat orang kembali ke masa lampau dan mereka tidak boleh berbuat terlalu mencolok di masa lalu tersebut agar tidak terjadi paradoks waktu (misalnya di waktu tersebut kita secara tidak sengaja mencegah sebuah pembunuhan. Nah, bisa jadi orang yang seharusnya mati itu ternyata jahat, atau keturunannya bakal berbuat kerusakan di dunia, gawat kan?). Om Mich menjabarkan perjalanan waktu sebagai perpindahan ke semesta lain. Jadi, sebenarnya kita tidak mungkin kembali ke masa yang telah lalu, tapi kita bisa pergi ke semesta lain yang kondisinya mirip dengan masa lalu yang telah terjadi.
Konsepnya adalah sejak bumi terbentuk hingga sekarang, semesta-semesta yang keadaannya identik dengan bumi terbentuk setiap detiknya. Jadi, ada semesta yang mirip dengan bumi masa dinosaurus, ada juga yang mirip dengan bumi masa kerajaan, sampai dengan bumi masa sekarang. Teori yang kontroversial ini dinamakan Teori Multisemesta (Multiverse Theory). Sebagai bukti paling sederhana yang menunjukkan bahwa multisemesta itu memang nyata adalah percobaan interferensi cahaya. Bila kita melewatkan berkas cahaya ke celah kecil, maka pada dinding di seberangnya akan terbentuk pola garis terang-gelap-terang-gelap. Masalahnya, percobaan tersebut dilakukan saat cahaya masih dianggap sebagai gelombang. Saat Einstein menemukan fakta lain, yaitu cahaya juga adalah partikel (foton) maka percobaan interferensi itu menimbulkan pemikiran lain. Pola-pola yang terbentuk itu mungkin terjadi karena interferensi antar foton, jadi seharusnya kalau cahaya yang dilewatkan ke celah itu hanya sebagai foton individual yang ditembakkan satu persatu ke celah, pola terang-gelap itu tidak akan terjadi karena tidak ada interferensi antar foton. Akhirnya dilakukanlah sebuah percobaan, yaitu foton-foton ditembakkan satu persatu ke celah, kemudian di antara bidang yang di seberang dengan celah diletakkan detektor yang akan berbunyi bila ada foton lain yang masuk ke dalam ruang itu. Hasilnya adalah, foton-foton itu tetap membentuk pola garis terang-gelap di bidang seberang celah, padahal detektor tidak berbunyi. Jadi apa yang menginterferensi foton tersebut? Om Mich mengatakan bahwa foton lain di semesta lai yang mirip dengan bumi saat ini lah yang menginterferensi foton individual itu.
Yak, bersambung ke bagian dua…cerna baik-baik informasi yang saya tulis ini,haha