Wah, sudah berjuta tahun saya tidak mengupdate tumblr, jadinya berdebu deh. Meskipun sedang sibuk2nya, jadi ingin menshare cerita ini sebelum lupa, hehe. Begini…
Di akhir kuliah fisika dasar 2A, seluruh mahasiswa TPB mendapatkan tugas research based learning yaitu membuat kapasitor dengan kapasitansi minimum tiga nanofarad. Nah, berhubung volum kapasitornya maksimal 3 cm kubik, kelompok saya jadi bingung akan memakai bahan dielektrik apa. Sampai tadi pun kami masih ragu apakah bahan dielektrik yang kami pilih akan menghasilkan kapasitansi yang besar.
Nah sepulang dari UAS lari yang penuh dengan tanah merah basah di sepatu dan kaki, kelompok kami berkumpul untuk membahas rancangan kapasitornya. Beberapa menit kemudian…rancangan dan opsi2nya sudah jadi, kami pun membubarkan diri. Di jalan, ada anggota kelompok lain yang tiba2 datang dan berkata, “coba deh pake otak bahan dielektriknya. Otak kan elektrolit, jadi pasti besar kapasitansinya.” WoW, iya juga sih teorinya gitu tapi ga harus otak juga kan, otak kan bentuknya lucu agak2 horor gitu, haha.
Setelah mendengar saran dari teman saya yang baik hati itu, suatu cerita terlintas di pikiran saya…
Di hari pengumpulan tugas tersebut…
Dosen: “Ini kapasitor yang kalian buat?”
Kami: “Iya pak, kami ngga beli kok kapasitornya (ya kali ”-_-).”
Dosen: “Hmm…Loh, anggota kelompok kalian ada sepuluh orang kan? Kok ini cuma sembilan orang? Kemana satu orang lagi?”
Kami: (sambil tersenyum) “Satu lagi kan sedang bapak pegang, hehehe.” (nunjuk ke kapasitor)
Kalau ga ngerti maksudnya, jadi satu orang teman kami telah dikorbankan biar otaknya bisa dipakai sebagai bahan dielektrik. Hmm, reaksi dosennya bakal gimana ya? (ngaco)